nurhasan.WordPress.com

BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah menyusul dua pertiga wilayah Indonesia terdiri dari laut potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005 total produksi perikanan 4,71 juta ton dimana 75 % (3,5 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Apabila dilihat dari tingkat pemanfaatan terutama untuk ikan-ikan non ekonomis belum optimal, hal ini disebabkan pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Akibatnya ikan-ikan tidak ditangani dengan baik dikapal sehingga ikan yang didaratkan bermutu rendah (20–30%), sehingga berdampak pada tingginya tingkat kehilangan (losses) sekitar 30-40%. Lebih jauh lagi ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah.

 Tujuan

  1. Untuk mengetahui apa strategi pengembangan hasil perikanan.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana strategi pengembangan hasil Perikanan.
  3. Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dalam strategi pengembangan hasil Perikanan.

 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana strategi pemasaran dan pengembangan hasil Perikanan.
  2. Bagaimana kompetensi sumberdaya manusia (SDM)
  3. Bagaimana meningkatkan nilai ekonomi produk olahan

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Sebagai konsekuensinya, usaha pengolahan produk hasil perikanan di Indonesia dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86%. Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 80% diantaranya didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional hanya sekitar 6% saja. Disisi lain ikan hasil tangkapan samping (HTS/by catch) pukat udang dan tuna serta sisa olahan (by product) industri perikanan belum pula dimanfaatkan secara optimal sehingga ikan tangkapan samping khususnya ikan-ikan non ekonomis/sisa hasil industri yang tidak termanfaatkan dibuang ke laut atau ditimbun dengan tanah dengan demikian terjadi kehilangan nilai jual ikan. Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja (padat karya) sumber pendapatan bagi nelayan, sumber protein hewani dan sumber devisa bagi negara. Salah satu usaha untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan pemanfaatan produksi hasil tangkapan laut adalah dengan pengembangan produk bernilai tambah baik olahan tradisional maupun modern. Namun produk bernilai tambah yang diproduksi di Indonesia masih dari ikan ekonomis seperti tuna/udang kaleng, tuna steak, loin dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual meski tanpa dilakukan proses lanjutan. Sedangkan apabila ingin merubah nilai jual ikan non ekonomis maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui teknologi produk perikanan (pengembangan produk hasil perikanan) agar lebih bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, aman, sehat melalui asupan gizi/vitamin/protein dari produk hasil perikanan dan ketahanan pangan.

Strategi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan.

Yang menjadi strategis dalam pengembangan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sebagai berikut :

a. Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety) Pihak pembeli dari negara lain menuntut kepada Indonesia (para eksportir) agar produk yang dihasilkan memenuhi ketentuan ketentuan sbb : penerapan HACCP, Bioterrorism Act, sanitasi kekerangan, cemaran logam berat dan histamin pada tuna dan certificate eco labelling selain health certificate. Hal ini disebabkan oleh lemahnya jaminan dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety) di Indonesia.

  1. Tingginya tingkat kehilangan (losses) mencapai sekitar 27,8% Untuk mendapatkan hasil/produk yang bermutu baik, maka sangat diperlukan bahan baku yang bermutu baik pula. Hal ini menjadi tuntutan dan syarat mutlak bagi konsumen. Apabila hal ini tidak dipenuhi, maka yang terjadi adalah banyaknya banyaknya terjadi tingkat kehilangan (losses). Penyebab lain adalah rendahnya pengetahuan nelayan, pengolah, petugas TPI/PPI mengenai cara penanganan dan pengolahan yang baik (Good Manufacturing Practice/GMP).
  2. Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders Produk perikanan yang bernilai tambah (value added products) dimasyarakat belum populer, hal ini disebabkan oleh masih kurangnya intensitas promosi serta rendahnya partisipasi stakeholders (khususnya produsen produk perikanan) dalam mengembangkan program promosi.
  3. Terbatasnya sarana penangan ikan di atas kapal distribusi dan terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih.
  4.  Kurangnya bahan baku industri pengolahan ini disebabkan oleh belum adanya kerjasama antara industri penangkapan dan pengolahan sehingga perusahaan penangkapan cenderung mengekspor ikan dalam bentuk ikan utuh (gelondongan).
  5. Bahan baku belum standar Sebanyak 85% produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar bahan baku industri pengolahan.
  6. Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan misalnya formalin, borax, zat pewarna, CO, antiseptik, pestisida, antibiotik (chloramphenol, Nitro Furans, OTC). Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas murah dan sangat mudah diperoleh.
  7. Jenis ragam produk dan pengembangan produk bernilai tambah belum berkembang (value added products) optimal dan belum populer Meskipun kajian dan hasil penelitian pemanfaatannya sudah banyak tersedia namun produksi secara masal belum dapat direalisasikan. Banyak kendala yang menyebabkannya salah satu diantaranya adalah ketersediaan sarana dan prasarana, mahalnya peralatan, kurangnya teknologi serta masalah kontinuitas suplai bahan baku.
  8. Rendahnya konsumsi ikan perkapita disebabkan oleh belum meratanya distribusi/suplai tidak kontinyu, masih banyak produk yang berkualitas kurang prima di pasaran, kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat makan ikan, masih adanya budaya dan kondisi sosial masyarakat yang kurang kondusif terhadap peningkatan konsumsi ikan serta belum meratanya program GEMAR IKAN di seluruh daerah.
  9. Informasi teknologi terbatas terbatasnya informasi dan teknologi penanganan dan motivasi serta keinginan untuk meningkatkan pengetahuan/keterampilan masih rendah.

Meningkatkan Konsumsi Ikan Yang Sehat dan Aman.

Salah satu tujuan membangun sektor Perikanan untuk terciptanya ketahanan pangan di Indonesia adalah meningkatkan ketersediaan ikan yang sehat dan aman. Untuk mencapai hal tersebut maka langkah relevan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut :

  1.  Meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan
  2. Meningkatkan produktivitas pengolahan hasil perikanan yang ramah lingkungan
  3. Meningkatkan standar bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang sesuai dengan ketentuan Internasional
  4. Meningkatkan kualitas kompetensi lembaga sertifikasi produk perikanan
  5. Memperkuat jaringan dan kelembagaan pemasaran dalam negeri
  6. Mendorong peningkatan konsumsi ikan dalam negeri
  7. Memperkuat dan mengembangkan basis pasar produk perikanan Indonesia dan di luar negeri
  8. Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia dibidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan
  9. Pentingnya dukungan teknologi produk perikanan.

 

Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya, melalui cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices), SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) . Tidak saja untuk konsumen luar negeri tetapi konsumen dalam negeri pun sudah mulai kritis dan menuntut penyediaan makanan yang aman dan sehat. Adapun cara yang di tempuh dalam penyediaan produk perikanan yang menjadi tujuan ketahanan pangan produk perikanan adalah :

  1. Meningkatnya konsumsi ikan
  2. Tersedianya produk yang aman, sehat dan kontinyu tersedianya.

 

Teknologi yang dibutuhkan dan perlu untuk dikembangkan adalah yang mampu mengatasi banyaknya permasalahan yang dihadapi sehingga tujuan ketersediaan pangan produk perikanan dapat terpenuhi, melalui teknologi yang murah dan aplikatif (mudah untuk diterapkan) dukungan teknologi produk perikanan menjadi sangat penting tidak hanya untuk memenuhi tuntutan pembeli/konsumen namun juga diperlukan dalam rangka menangkap perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan yang lebih cenderung kepada makanan olahan yang instan, cepat dan praktis, tetap mengutamakan kandungan gizi dan pemeliharaan kesehatan serta aman untuk dikonsumsi. Protein hewani yang berasal dari ikan dan berbagai jenisnya menjadi jawabannya yang selama ini ditangani dengan cara yang benar dan sesuai standar.

Peran strategi teknologi pengembangan produk perikanan :

  1. Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis, apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.
  2. Menumbuhkan inovasi teknologi modern karena dalam pengembangan produk terkait erat dengan rekayasa produksi sehingga diperlukan rekayasa peralatan dan sentuhan teknologi modern.
  3. Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional karena dalam pengembangan produk tidak hanya produk yang melalui proses teknologi modern saja yang menjadi fokus perhatian tetapi produk tradiosional pun perlu memperoleh apresiasi sehingga memiliki daya saing dengan produk olahan lainnya. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain : kebersihannya/higienis, pengemasannya, proses pembuatannya, dan sebagainya.
  4. Membentuk SDM berkualitas dan kompeten karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan kompeten.

Cold Chain Sistem.

Sistem Rantai Dingin atau Cold Chain System (CCS) merupakan salah satu program yang dapat mendorong akselerasi tercapainya produk perikanan prima. Karena prinsip utama dalam penerapan sistem rantai dingin adalah penanganan ikan dengan suhu dingin sekitar 0°C dilakukan secara terus menerus tidak terputus sejak ikan ditangkap atau dipanen didaratkan dan di distribusikan serta dipasarkan hingga ke tangan konsumen. Apabila penerapan sistem rantai dingin secara benar diterapkan dengan baik serta memperhatikan sanitasi dan hygiene maka ikan hasil tangkapan atau ikan hasil panen dapat dipastikan memiliki mutu tinggi, aman dikonsumsi serta memenuhi keriteria produk perikanan prima. Sistem rantai dingin sudah dikembangkan sejak dulu walaupun sifatnya masih parsial dan belum dilakukan secara sistematis dari hulu sampai hilir. Pada awalnya pengembangan sistem rantai dingin ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian pada tahun 1990-an dengan kegiatan pemberian bantuan cool box kepada nelayan kecil dan bimbingan teknis tentang penanganan hasil perikanan dengan menggunakan sarana cool box tersebut. Mengingat dari sisi pendanaan yang relative kecil sehingga tingkat keberhasilan dari kegiatan tersebut belum dapat dirasakan manfaatnya oleh para nelayan secara nasional.

Pengembangan Sentra.

Sentra merupakan kumpulan dari beberapa produsen produk sejenis yang berada pada posisi yang sama dalam mata rantai. Sentra merupakan pusat kegiatan UKM di kawasan/lokasi tertentu yang menggunakan bahan baku/sarana yang sama menghasilkan produk yang sejenis serta memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi klaster. Sedangkan pengembangan sentra dilakukan karena beberapa alasan antara lain :

  1. Adanya efisiensi kolektif (bahan baku, proses produksi dan pemasaran hasil)
  2. Mencapai skala ekonomis
  3. Penanganan limbah lebih terkendali
  4. Mudah melakukan pembinaan dan monev (standar yang homogen)
  5. Adanya akses terhadap inovasi
  6. Adanya akses terhadap pengetahuan dan teknologi
  7. Mempermudah internalisasi pengembangan UKM Pengolaha.

 

Dengan menumbuhkembangkan sentra-sentra pengolahan ikan di daerah dan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis usaha pengolahan ikan mengembangkan jaringan usaha mikro kecil dan menengah dalam suatu kawasan kemudian disinergikan dengan usaha pengembangan produk serta selalu menerapkan sistem rantai dingin maka diharapkan mampu mendorong terciptanya produk yang aman dan sehat serta ketersediaan produk menjadi kontinyu sehingga tingkat konsumsi meningkat.

BAB III

P E N U T U P

 KESIMPULAN

 

  • Strategi pengembangan hasil Perikanan adalah melalui teknologi produk hasil perikanan (pengembangan produk hasil perikanan) agar lebih bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, aman, sehat dan melalui produk hasil perikanan.
  • Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.

SARAN

 

  • Kita tingkatkan produksi hasil perikanan agar tetap stabil
  • Tingkatkan mutu keamanan produk perikanan dan pengolahan hasil perikanan
  • Tingkatkan kompetensi sumberdaya manusia di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Wilayah Pengelolaan Perikanan Laut Indonesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
  2. Erwadi, H.W. dan H.W. Syafri. 2003. Strategi Agribisnis Kelautan Perikanan. Alqaprint Jatinangor, Bandung.
  3. Naamin, N. 1987. Perikanan Laut di Indonesia : Prospek dan Problema Pengembangan Sumberdaya Perikanan Laut. Seminar Laut Nasional II, Jakarta.
  4. Monintja, D.R. 1987. Beberapa Teknologi Pilihan untuk Pemanfaatan Hayati Laut di Indonesia. Bulletin Jurusan PSP Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor,
  5. Sjaifudian, H. H, D. Maspiyati. 1995. Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil, Penerbit Yayasan Akatiga, Bandung.
  6. Porter, M. E. 1995. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing, Penerbit Erlangga Jakarta.

Rekayasa Genetika

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejenis ikan tropis yang memancarkan cahaya merah akan menjadi binatang peliharaan pertama yang direkayasa, demikian diungkapkan para ilmuwan. Ikan jenis zebra ini sesungguhnya dirancang sebagai detektor adanya racun-racun yang ada di alam.
“Ikan ini semula dikembangkan untuk membantu menanggulangi polusi lingkungan,” kata Alan Blake dan rekan-rekannya dari Yorktown Technologies, perusahaan yang mendaftarkan ikan tersebut sebagai ikan peliharaan. “Mereka direkayasa agar memancarkan cahaya bila berada di lingkungan yang beracun atau tidak sehat.”
Ikan zebra (Brachydanio rerio) biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan. Dengan rekayasa genetis, ikan ini dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Warna merah atau hijau yang bersinar itu diambil dari warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur-telur ikan zebra.
Dengan gen ubur-ubur itu, tubuh ikan zebra dapat memancarkan cahaya. Nah, agar bisa digunakan sebagai indikator polusi, maka para peneliti memasukkan gen pemicu yang akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung zat tertentu.
Menurut Blake, sejauh ini tidak ada bukti bahwa ikan-ikan hasil rekayasa tersebut akan menimbulkan ancaman pada lingkungan. “Ikan-ikan ini hanya akan memancarkan warna terang di bawah segala macam sinar, namun tidak akan mencemari lingkungan.”
Ikan yang kini disebut Glofish ini mulanya dikembangkan oleh Zhiyuan Gong dari National University of Singapore. Menurut Gong, meski saat ini ikan tersebut hanya memiliki dua warna tambahan, namun sebenarnya ia bisa dikembangkan untuk memiliki lima warna berbeda, dimana masing-masing warna akan bersinar sesuai dengan jenis bahan polutan yang dijumpai ikan.
1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara pengolahan dan membantu menciptakan produk organisme baru dari hasil rekayasa genetika.
2. Untuk mengetahui sejauh mana tentang hasil rekayasa genetika.
3. Untuk mengetahui bagaimana teknologi DNA dalam bidang bioteknologi, yakni teknologi rekayasa genetika.

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Teknologi Rekayasa Genetika
Ikan zebra (Brachydanio rerio) berfluoresens pertama hasil rekayasa genetika berhasil dikembangkan oleh para ilmuwan untuk mendeteksi adanya polutan, bahkan mulai dipasarkan sebagai binatang peliharaan.”
Cuplikan informasi tersebut hanyalah salah satu contoh bagaimana teknologi DNA telah meluncurkan revolusi dalam bidang bioteknologi, yakni teknologi rekayasa genetika. Keberhasilan ini tentunya membawa angin segar dan kontribusi yang sangat besar, terutama dalam bidang rekayasa genetika ikan dan akuakultur karena selain bermanfaat bagi penelitian dasar juga dapat ditujukan untuk penggunaan komersial.
Rekayasa genetika atau genetic engineering pada dasarnya adalah seperangkat teknik yang dilakukan untuk memanipulasi komponen genetik, yakni DNA genom atau gen yang dapat dilakukan dalam satu sel atau organisme, bahkan dari satu organisme ke organisme lain yang berbeda jenisnya. Dalam upaya melakukan rekayasa genetika, para ilmuwan menggunakan teknologi DNA rekombinan. Sementara organisme yang dimanipulasi dengan menggunakan teknik DNA rekombinan disebut genetically modified organisme (GMO) yang memiliki sifat unggul bila dibandingkan dengan organisme asalnya. Seiring dengan kemajuan biologi molekuler sekarang ini memungkinkan ilmuwan untuk mengambil DNA suatu spesies karena DNA mudah diekstraksi dari sel-sel. Kemudian disusunlah suatu konstruksi molekuler yang dapat disimpan di dalam laboratorium. DNA yang telah mengalami penyusunan molekuler dinamakan DNA rekombinan sedangkan gen yang diisolasi dengan metode tersebut dinamakan gen yang diklon.
2.2. Sejarah dan Perkembangan Rekayasa Genetika
Semenjak ditemukannya struktur DNA oleh Watson dan Crick (1953), kemudian mulai berkembanglah teknologi rekayasa genetika pada tahun 1970-an dengan tujuan untuk membantu menciptakan produk dan organisme baru yang bermanfaat. Sejarah membuktikan bahwa teknik rekayasa genetika terus-menerus mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Awal mulanya digunakan teknik konservatif yang dipelopori oleh Gregor Mendel dalam proses perkawinan silang (breeding) untuk mendapatkan bibit unggul yang bersifat hibrid. Proses ini memakan waktu lama dan memiliki kekurangan, yakni muncul sifat yang tak dinginkan dari tanaman atau hewan tetuanya. Sampai akhirnya lahirlah rekayasa genetika modern menggunakan teknologi DNA rekombinan. Rekombinasi dilakukan secara in vitro (di luar sel organisme), sehingga dimungkinkan untuk memodifikasi gen-gen spesifik dan memindahkannya di antara organisme yang berbeda seperti bakteri, tumbuhan dan hewan ataupun dapat mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu cepat.
Sejak dimulainya perkembangan rekayasa genetika, beberapa teknik terus diperbaiki dan ditingkatkan dalam rangka menuju teknologi DNA rekombinan yang lebih maju. Teknik-teknik yang telah dikembangkan tersebut antara lain:
1. Poliploidisasi,
2. Androgenesis
3. Ginogenesis.
4. Kloning,
5. Chimeras, Serta
6. Transgenik.
Beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam melakukan rekayasa genetika atau teknologi DNA rekombinan sebagai berikut:
1. Isolasi DNA yang mengandung gen target atau gen of interest (GOI).
2. Isolasi plasmid DNA bakteri yang akan digunakan sebagai vektor.
3. Manipulasi sekuen DNA melalui penyelipan DNA ke dalam vektor. (a.) Pemotongan DNA menggunakan enzim restriksi endonuklease. (b.) Penyambungan ke vektor menggunakan DNA ligase.
4. Transformasi ke sel mikroorganisme inang.
5. Pengklonan sel-sel (dan gen asing).
6. Identifikasi sel inang yang mengandung DNA rekombinan yang diinginkan
7. Penyimpanan gen hasil klon dalam perpustakaan DNA.
Rekayasa genetika telah merambah di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang perikanan yang menghasilkan ikan kualitas unggul, sebagai contoh antara lain:
• Ikan zebra yang biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan, setelah disisipi dengan gen warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur ikan-ikan zebra maka dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Gen pemicu dari ubur-ubur akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung bahan polutan tertentu.
• Ikan karper transgenik dengan pertumbuhan mencapai tiga kali dari ukuran normalnya karena memiliki gen dari hormon pertumbuhan ikan salmon (rainbow trout) yang ditransfer secara langsung ke dalam telur ikan karper. Begitu pula penelitian lainnya memberikan hasil yang serupa, yakni seperti pada ikan kakap (red sea bream) dan salmon Atlantik yang juga sama-sama disisipi oleh gen growth hormone OPAFPcsGH.
• Ikan goldfish yang disisipi dengan ocean pout antifreeze protein gene diharapkan dapat meningkatkan toleransi terhadap cuaca dingin.
• Ikan medaka transgenik yang mampu mendeteksi adanya mutasi (terutama yang disebabkan oleh polutan) sangat bermanfaat bagi kehidupan hewan akuatik lainnya dan di bidang kesehatan manusia. Ikan tersebut setelah disisipi dengan vektor bakteriofag mutagenik, kemudian vektor DNA dikeluarkan dan disisipkan ke dalam bakteri pengindikator yang dapat menghitung gen mutan.
• Ikan transgenik menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan setelah ditransplantasikan gen tomat. Namun bisa juga sebaliknya apabila penerapan ditujukan untuk dunia pertanian, maka gen ikan yang hidup di daerah dingin dapat dipindahkan ke dalam tomat untuk mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.
Berbagai kontroversi menyelimuti produk-produk hasil rekayasa genetika. Kekhawatiran-kekhawatiran mengenai produk rekayasa genetik yang memiliki kemungkinan bersifat racun, menimbulkan alergi serta terjadi resistensi terhadap bakteri dan antibiotik selalu terjadi dalam masyarakat. Memang DNA rekombinan yang diproduksi dengan cara buatan itu dapat berbahaya jika tidak disimpan secara layak dan tindakan pencegahan yang ketat perlu diterapkan pada pekerjaan semacam ini. Jadi hanya galur-galur non-patogenik yang dipergunakan sebagai inang atau galur-galur lain yang dapat tumbuh dalam kondisi laboratorium. Namun demikian, hal ini tidaklah menyurutkan para saintis untuk terus memperbaiki kualitas penelitian di bidang rekayasa genetika semata-mata adalah demi kemaslahatan bersama. Pada akhirnya, kita harus mempertimbangkan masalah-masalah sosial, etika dan moral ketika teknologi gen menjadi lebih ampuh.

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
rekayasa genetika modern menggunakan teknologi DNA rekombinan. Rekombinasi dilakukan secara in vitro (di luar sel organisme), sehingga dimungkinkan untuk memodifikasi gen-gen spesifik dan memindahkannya di antara organisme yang berbeda seperti bakteri, tumbuhan dan hewan ataupun dapat mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu cepat.
DNA rekombinan yang diproduksi dengan cara buatan itu dapat berbahaya jika tidak disimpan secara layak dan tindakan pencegahan yang ketat perlu diterapkan pada pekerjaan semacam ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Huzaifah, Hamid. Genetika Dasar. http://zaifbio.wordpress.com. Diakses tanggal 4 April2010
2. Agorsiloku. Dampak Penggunaan Hasil Rekayasa Genetika. http://agorsiloku.wordpress.comdiakses tanggal 4 April 2010
3. Amarullah, Zakky. Rekayasa Genetika. http://senyawa-kimia.blogspot.com diakses tanggal4 April 2010
4. Anonim. Rekayasa Genetika. http://www.wikipedia.org. diakses tanggal 4 April 2010http://id.answers.yahoo.com/

Ikan Betutu(ikan malas) memiliki kelebihan tahan hidup di perairannya yang terbatas. Ikan ini sering dipasarkan dalam bentuk hidup. Ikan yang tergolong mahal ini merupakan makanan favorit di pasar ikan di Bangkok. Meski kulitnya berwarna menyeramkan, tetapi daging di dalamnya berwarna putih bersih.

A. Pengenalan Jenis
Awalnya, ikan gabus malas adalah hama yang mengusik ketenangan ikan-ikan peliharaan di kolam, sama seperti belut. Namanya sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Ikan ini hampir-hampir tidak bergerak saking malasnya. Oleh karena itu, ikan ini harus diberi pakan hidup agar bereaksi. Ikan gabus malas dikenal juga dengan nama betutu. Ikan betutu memiliki sisik tipe ctenoid. Artinya, bentuk sisik kecil¬kecil dan menyelimuti sekujur adannya. Pada bagian kepala sisik, terdapat moncong, pipi, dan operculum. Bagian operculum sisik ini lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Sirip dubur lebih pendek dari sirip punggung kedua.
Ikan ini mudah dibedakan dengan ikan lainnya karena mempunyai warna tubuh cokelat kehitaman. Pada bagian punggungnya berwarna hijau gelap, sedangkan warna bagian perutnya lebih terang. Bagian kepala memiliki tanda berwarna merah muda.
Betutu bisa tumbuh hingga mencapai 45 cm. Badannya berbentuk bulat panjang. Mulutnya bisa dibuka lebar dan siap menyantap mangsanya yang melintas di depannya. Sirip ekor berbentuk membulat (rounded) dengan kulit tubuh dihiasi belang-belang kecokelatan.
Jenis gabus malas atau ikan betutu yang dikenal di antaranya sebagai berikut.
1. Broadhead sleeper atau Dorminator lotifrans
Ikan ini tersebar di Kepulauan Pasifik dan Amerika Tengah serta Meksiko bagian Selatan, baik di air asin maupun air tawar. Panjang tubuhnya bisa mencapai hingga 25 cm. Broadhead sleeper suka makan ikan-ikan kecil.
2. Spotted Goby atau Dorminator maculatus
Ikan ini bisa tumbuh sampai 25 cm. Spotted Goby tersebar di Kepualauan Pasifik dan Amerika Tengah, baik di laut ataupun di air payau.
3. Morgunda-morgunda atau purple-striped gudgeon
Ikan yang tergolong buas ini terdapat di perairan tawar di Australia Utara dan Tengah. Panjang tubuhnya bisa mencapai 20 cm.

B. Kebiasaan Hidup di Alam
Benih ikan gabus Bering tampak seperti serombongan ikan cere (Lebistes reticulates) di kolam. Gabus malas ini berasal dari Kalimantan, Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Ikan ini hidup di sungai, rawa dengan kedalaman 40 cm, dan menyukai perairan yang dangkal.
Ikan betutu ini cenderung memilih tempat yang gelap, berlumpur, berarus tenang, atau wilayah bebatuan untuk bersembunyi. Di Indonesia, ikan ini ditemukan di Palembang, Muara Kompeh, Gunung Sahilan, Jambi, Danau Koto, Sungai Russu, Bua-bua, Banjarmasin, Sintang, Montrado, Batu Pangal, Smitau,Danau Boran, Pontianak, Sungai Kapuas, Serawak dan Ternate, Sungai Cisadane, Bengawan Solo, dan beberapa sungai besar lainnya.

1. Kebiasaan makan
Di alam, betutu menyantap pakan yang jaraknya sangat dekat. Dengan bentuk mulut yang sangat lebar, bukan halangan bagi betutu untuk mengenyangkan perutnya. Betutu termasuk golongan karnivora. Jenis pakan yang disukai adalah ikan-ikan kecil, cacing, atau organisme lainnya, asalkan masih hidup. Ikan ini bisa menyantap pakan ini dalam jumlah yang besar setiap harinya.

2. Kebiasaan berkembang biak
Di alam, betutu akan kawin pada musim penghujan di tempat yang berpasir bersih. Ikan ini kawin secara berpasangan. Telurnya akan dietakkan di dasar atau ditempelkan pada substrat, pinggiran batu, atau akar pokok kayu yang bersih. Telurnya akan tampak seperti kabut atau kapas yang sangat lembut dan halus yang menempel pada substrat.

3. Memilih Induk
Induk betutu umumnya dikumpulkan dari alam sebab perlu waktu yang lama dan pakan yang sangat banyak untuk menghasilkan induk di kolam. Induk-induk ini umumnya dikumpulkan di antara betutu dewasa dan diseleksi yang memiliki badan sehat. Induk jantan dapat dibedakan dari induk betina dengan melihat ciri-ciri morfologis sebagai berikut.
Ciri induk yang berkualitas
a. Betina
Badannya berwana lebih gelap.Bercak hitam lebih banyak. Papila urogenital berbentuk tonjolan memanjang yang lebih besar. membundar, warnanya memerah saat menjelang memijah. Ukurannya lebih kecil dibandingkan Ukurannya lebih kecil dibandingkan yang jantan pada umur yang sama.Berbadan sehat.Dewasa.
b. Jantan
Badannya berwana lebih terang.Bercak hitam lebih sedikit.Papila orogenital berbentuk segitiga, pipih, dan kecil.Pada umur yang sama ukurannya lebih besar daripada betina.Berbadan sehat.Dewasa.

4. Pemijahan di Kolam
Awalnya, betutu adalah ikan liar yang kehadirannya tidak dikehendaki di kolam pemeliharaan karena suka memangsa ikan yang dipelihara di dalamnya. Oleh karena itu, bila hendak memijahkan betutu di dalam kolam maka persiapannya harus matang agar tidak ada ikan lain yang masuk ke dalam kolam dan mengganggu proses pemijahan ikan betutu.
a. Konstruksi kolam pemijahan ikan betutu
Luas kolam pemijahan bervariasi antara, tergantung ketersediaan lahan. Kolam berbentuk persegi panjang dengan letak pintu pemasukan dan pembuangan berseberangan secara diagonal. Tujuannya agar kolam bisa memperoleh air dari saluran langsung dan pembuangannya pun bisa lancar. Debit air kolam minimal 25 liter/menit. Pergantian air yang kotinyu akan berpengaruh positif terhadap proses pemijahan.
Tehnik memijahkan ikan betutu (Oxyeleotris marmoroto) dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan secara alami dan pemijahan secara induksi (kawin suntik).
pada pemijahan alami tidak mengenal musim, bisa 3-4 kali dalam satu tahun. ikan betutu mempunyai keinginan untuk memijah biasanya ketika musim hujan. pada musim hujan perkembangbiakan ikan betutu ini akan meningkat. Pada puncak musim kemarau (Juli-September) betutu agak malas untuk berkembangbiak, tetapi pada pemeliharaan intensif ikan betutu ini dapat memijah dengan pemberian pakan yang berkualitas. Pemijahan secara alami dilaksanakan di kolam pemijahan yang berukuran 20 x 10 m2 dengan kedalaman air 70-80 cm atau pada bak semen yang lebih sempit. Debit air dijaga sekitar 25 liter/menit. pada kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang berbentuk segitiga yang terbuat dari asbes yang disatukan, berukuran 30 cm. Tempat penempel telur ini sekaligus menjadi kolektor telur.

b. Persiapan kolam
Induk dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk kolam pemijahan seluas 200 m2, dapat disiapkan induk yang rata-rata berukuran 300 g sebanyak 35-40 pasang. Sementara untuk kolam kecil, dengan luas 8 m2, dapat dimasukkan induk sebanyak 3-4 pasang.
Sebelum induk dimasukkan, kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang pemijahan berupa segitiga yang dibuat dari asbes. Ukuran panjang segitigiga 30 cm yang diikat dengan kawat dan diberi pelampung untuk mempermudah mengetahui keberadaannya. Induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan setelah kolam terisi air setinggi 40-45 cm. Selama proses pemijahan, sebaiknya kolam memper¬oleh pergantian air secara kontinyu. Proses pergantian air secara kontinyu ini terbukti mampu merangsang pemijahan hampir semua jenis ikan secara alami.
c. Pemijahan
Tingkah laku pemijahan ikan betutu meliputi 5 tahap, yaitu membentuk daerah kekuasaan, membuat sarang pemijahan, proses kawin, memijah dan meletakkan telurnya pada sarang, dan menjaga telurnya. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, tetapi tidak jarang pada Siang hari betutu juga memijah. Ikan ini akan kawin di dalam segitiga sarang pemijahan. Selanjutnya, telur yang dihasilkan akan ditempelkan ke dalam kotak segitiga sarang pemijahan tersebut.

5. Penetasan Telur dan Perawatan Benih
Telur ikan betutu berbentuk lonjong, transparan. Ukurannya sangat kecil, kira-kira hanya bergaris tengah 0,83 mm. Telur tersebut melekat pada dinding sarang. Setelah kontak dengan air selama 10-15 menit, membran vitelinya akan mengembang terns dan panjang telur meningkat sekitar 50 % hingga telur berukuran 1,3 mm.
Penetasan telur dilakukan di akuarium dengan mengangkat sarang pemijahan yang telah berisi telur. Sebuah sarang pemijahan bisa ditempati oleh sepasang induk, tetapi bisa juga ditempati beberapa ekor induk. Kapasitas akuarium sebaiknya minimal 60 liter. Untuk menjamin proses penetasan, diberi aerasi agak kuat, dan ditetesi beberapa tetes
Malachytgreen atau Metilen blue untuk mencegah jamur (fungi). Telur yang terserang jamur akan tampak putih berbulu dan sebaiknya segera disifon agar tidak menulari telur yang lain.
Jumlah telur dalam setiap sarang berkisar 20.000- 30.000 butir. Telur tidak menetas dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, penetasan berlangsung 2-4 hari. Setelah telur menetas, kekuatan aerator dikurangi. Adapun persentase telur yang menetas antara 80—90%.

6. Pendederan
Pendederan dimaksudkan untuk memelihara larva yang baru menetas dan sudah habis kuning telurnya (yolk sack) ke dalam kolam untuk memperoleh ikan yang seukuran sejari (fingerling). Pendederan biasanya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pendederan I dan pendederan II.
• Pendederan I dilakukan di dalam bak atau kolam yang lebih kecil, berukuran 5 m x 2 m dengan kedalaman 1 m. Kolam ini dipasangi hapa dengan ukuran mata 500 mikron (0,5 mm) yang berukuran 100 cm x 75 cm dan tinggi 60 cm. Banyaknya hapa yang dipasang tergantung benih yang akan ditebar. Kepadatan penebaran di dalam hapa pada pendederan I yaitu 30.000 ekor /m2 atau 3o ekor/liter air. Jadi, ke dalam bak tersebut dapat ditampung sebanyak 100.000-150.000 ekor larva, hasil dari 3-5 buah sarang, dengan kedalaman air 50 cm. Lama pemeliharaan di dalam pendederan I ini yaitu 2 bulan. Dengan pakan yang disuplai dari luar, akan dihasilkan benih seukuran 1-2 cm dengan tingkat hidup mencapai 20%.
• Untuk pendederan 11, dibutuhkan kolam yang luasnya 50 m2 dengan ukuran 5 m x 10 m dan kedalaman kolam 0,7 meter. Kolam dipupuk dengan kotoran ayam sebanyak 0,5-1,5 kg /m2, tergantung dari kesuburan kolam. Lama pemeliharaan di pendederan II yaitu 4 bulan dan akan dihasilkan benih betutu berukuran 10 cm (30-50 g) dengan tingkat kehidupan bisa mencapai 100%.

7. Pembesaran
Pembesaran dimaksudkan untuk menghasilkan betutu berukuran konsumsi. Kolam yang dibutuhkan seluas 200-600 m2. Kolam diusahakan memperoleh air barn dengan konstruksi pematang kolam dari tanah dengan terlebih dahulu dipastikan tidak bocor. Idealnya, kolam betutu dengan pematang yang ditembok. Di dalam kolam ditempatkan beberapa tempat persembunyian berupa ban bekas atau dawn kelapa karena betutu menghendaki lingkungan yang agak remang-remang. Kolam dipupuk terlebih dahulu dengan kotoran ayam dengan dosis 0.5-1.5 kg/m2. Kolam diairi dengan air yang sudah lewat saringan. Selanjutnya, benih berukuran ditebarkan. Adapun kepadatan penebaran tergantung benih yang ditebarkan. Untuk benih berukuran 100 g dapat ditebarkan 20 ekor/m2, sedangkan yang berukuran 175 g dapat ditebarkan sebanyak 8 ekor/m2. Dalam tempo 5 bulan, benih yang beratnya 100 g dapat tumbuh menjadi 250 g/ekor, sedangkan yang berukuran 175 g dapat mencapai berat 400 g/ekor selama 6 bulan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang Masalah
Ikan gurami (Oshpronemus gouramy, Lacepede) merupakan ikan asli Indonesia dan berasal dari perairan daerah Jawa Barat. Ikan ini merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang cukup penting apabila dilihat dari permintaannya yang cukup besar dan harganya yang relatif tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila, tambakan dan tawes, dan merupakan salah satu sumber protein yang cukup tinggi. Bagi masyarakat umum, ikan ini dipandang sebagai salah satu ikan bergengsi dan biasanya disajikan pada acara-acara yang dianggap penting. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila ikan gurami menjadi salah satu komoditi unggulan di sektor perikanan air tawar.
Umumnya budidaya ikan gurami masih dilaksanakan oleh masyarakat dengan teknologi semi intensif. Masa pemeliharaanya relatif lama sehingga dilakukan dalam beberapa tahap pemeliharaan yaitu tahap pembenihan, tahap pendederan dan tahap pembesaran, dimana pada masing-masing tahapan menghasilkan produk yang dapat di pasarkan secara tersendiri.
Peranan Balai Benih Ikan dalam rangka pengembangan ikan gurami dilaksanakan antara lain berupa penyediaan induk dan benih unggul dan pengenalan teknologi budidaya secara intensif kepada pembudidaya ikan. Namun demikian, langkah pengembangan selanjutnya yang masih perlu digarap adalah aspek pemasaran baik di pasar domestik maupun ekspor.
Wilayah survey untuk usaha pendederan ikan gurami adalah salah satu daerah sentra ikan guramie di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Banyumas. Sedangkan wilayah survey untuk pembesaran ikan adalah Kabupaten Bogor. Oleh sebab itu informasi teknis pendederan dan pembesaran ikan gurami terutama menggunakan informasi yang diperoleh dari kondisi pengusaha dan lembaga lain di kedua wilayah tersebut.
B. Tujuan yang ingin dicapai
Adapun Tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah
1. Sebagai salah satu tugas makalah
2. Untuk mengetahui bagaimana cara pengelohan pembesaran pada ikan gurame
3. Untuk menambah wawasan tentang pemberian pakan pada ikan gurame
C. Metode Yang Digunakan
Metode deskriftif dengan teknik study kepustakaan atau literature, yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah-masalah yang di bahas di dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
PROSES PEMBESARAN IKAN GURAME

1. Pemeliharaan Pembesaran
Dalam tahapan pembesaran, jumlah benih yang akan dimasukan dalam kolam ini sebanyak 270.000 benih dengan berat sekitar 200-250 gram. Luas kolam yang dibutuh kan 13500 meter persegi, dengan ukuran 20 X 10 meter sebanyak 68 kolam. dengan konstruksi kolam berupa kolam tanah. Kedalaman air kolam sekitar 1 m dari dasar kolam dibuat tidak terlalu berlumpur. Masing-masing kolam menampung benih sebanyak 4.000. Ikan yang dipelihara dapat berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2. Pakan yang diberikan terdiri dari pelet dengan jumlah pemberian sebanyak 1,5 – 2% pada pagi dan sore hari serta daun-daunan sebanyak 5% diberikan pada sore hari. Dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 1kg/ekor.

2. Pemberian Pakan
Adapun jenis pakan ikan gurame terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun-daunan dan pakan buatan (anorganik), berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente merupakan salah satu pakan ikan gurame yang lazim digunakan bahan makanan buatan berupa pelet dibuat dari bahan makanan ternak, baik hewani maupun nabati. Dengan komposisi 33 bagian tepung ikan, 2 bagian tepung daging dan 65 bagian dedak halus, dengan perhitungan kadar protein keseluruhan adalah sebagai berikut (60/10×33)+(80/100×2)+(15/100×65) = 31,1 %. Perhitungan ini diperoleh dari bagan daftar protein beberapa jenis makanan Ikan diberi pakan setiap hari sebanyak dua kali dengan waktu pemberian pakan pada pagi dan sore hai. Untuk pagi hari ikan diberi pakan alami sedangkan pada sore hari ikan diberi pakan organik (pelet).

3. Pemeliharaan Kolam
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.

4. Persyaratan Lokasi
Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
1. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
2. Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 50-400 m dpl.
3. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
4. Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
5. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
6. Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.
5. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Kolam
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:
1. Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
2. Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk atau ranting-ranting.
3. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
4. Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
5. Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
1. Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m 2 ).
2. Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.
3. Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air. Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan air.
4. Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi. Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat miring ke arah pintu keluar air.
5. Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
6. Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.
2. Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan gurame antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3. Pemilihan Induk
Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut :
1. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
2. Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
3. Ukuran kepala relatif kecil
4. Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
5. Gerakan normal dan lincah.
6. Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
7. Berumur antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
 Betina
 Dahi meninjol.
 Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.
 Dagu putih kecoklatan.
 Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
 Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
 Jantan
 Dahi menonjol.
 Dasar sirip dada terang keputihan.
 Dagu kuning.
 Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.
 Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
4. Pemeliharaan Induk
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m 2 ) disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan. Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.
5. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun monokultur.
1. Polikultur
Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame yang cukup lambat.
2. Monokultur
Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm) diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi
6. Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan, dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan. Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk tiap 100 m 2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari. Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100 m 2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap dasar dan sudut kolam.
6. Hama dan Penyakit
1. Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang disebut penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit. Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya gas-gas beracun berupa asam belerang atau amoniak; kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan. Penanggulangannya adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku ikan-ikan tersebut. Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban gerakannya. Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan terkena penyakit yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:
1. Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama di bagian dada, perut dan pangkal sirip.
2. Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu
3. Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri. Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan dan melakukan penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala stadium mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
1. Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)
1. Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.
2. Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
3. Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit dengan diawasi terus menerus.
4. Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari kemudian.
2. Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan 2-3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan tersebut dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.
3. Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya:
1. siapkan wadah yang diisi air bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai rata.
2. ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja.
3. Setelah itu segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya dipindahkan kembali ke dalam kolam.
4. pengobatan ulang dapat dilakukan 3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.
2. Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan sepat. Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung pemangsa.
7. Proses Produksi
Dalam proses produksi budidaya ikan gurame ini, Guramy fish membeli benih inak yang berukuran 250 gram dari para peternak benih yang kemudian dibesarkan hingga ukuran 1 kg. untuk mendapatkan kualitas ikan gurame yang optimal, kami melakukan pembudidayaan ikan gurame di lokasi yang memiliki spesifikasi sebagai berikut :
1. Dilaksanakan di dataran rendah pada ketinggian 20 – 400 m dpl
2. Kuantitas dan kualitas air mencukupi. Kualitas air yang dibutuhkan yaitu air tenang, bersih, dasar kolam tidak berlumpur (kekeruhan air 40 cm dari permukaan air), tidak tercemar bahan kimia beracun dan limbah (kadar NH3 tidak lebih besar dari 0,02%), kemasan air (pH) 6,5-8. Apabila pH di bawah 6,5 maka untuk menaikkan pH di lakukan pengapuran dengan CaCO3, sedangkan apabilah pH diatas 8 maka untuk menurunkan dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang.
3. Tanah tidak berporous dan cukup mengandung humus. Tanah yang tidak berporous dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor, sedangkan perbandingan antara tanah liat dan pasir kurang dari 60%:40%.
4. Kemiringan tanah 3%-5% untuk memudahkan pengairan kolam
5. Temparatur optimum 25-30oC
6. Kandungan oksigen dalam > 2 ppm.

BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
• Dalam tahapan pembesaran, luas kolam optimal sekitar 200 m2 dengan konstruksi kolam berupa kolam tanah. Kedalaman air kolam sekitar 1 m dari dasar kolam dibuat tidak terlalu berlumpur. Persiapan kolam dalam tahapan ini tidak jauh berbeda dengan persiapan yang dilakukan pada tahap pendederan.
• Ikan yang dipelihara dapat berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2. Pakan yang diberikan terdiri dari pelet dengan jumlah pemberian sebanyak 1,5 – 2% pada pagi dan sore hari serta daun-daunan sebanyak 5% diberikan pada sore hari. Dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor.
• Pemberian pakan buatan/pelet bukan hal yang pokok, karena ikan gurami dewasa bersifat herbivora. Namun, peran pelet adalah sebagai stimulans, yaitu sebelum diberi pakan daun. Pemberian pakan pelet sebanyak 2% dari berat total, dengan cara pemberian pakan, 2/3 bagian diberikan pada pagi hari dan 1/3 bagian sore hari, sedangkan pakan nabati diberikan secukupnya.
B. Saran
• Bagi kita dan generasi akan datang sudah sepatutnya untuk memelihara menjaga dan melestarikan serta mebudidayakan Untuk mendapatkan kualitas ikan gurame yang optimal
• Kepada para pembaca kalau ingin lebih mengetahui tentang bahasan ini bisa membaca buku atau majalah-majalah yang memuat tentang proses pembesaran dan memberi pakan pada ikan gurame.

DAFTAR PUSTAKA

1. RUSDI, Taufiq. Usaha budidaya Ikan Gurame. Jakarta : CV. simplek, 1987
2. SITANGGANG, M. Budidaya Gurame. Jakarta : Penerbit Swadaya, 1999
3. Kumpulan Gurame Kliping Ikan. Jakarta : trubus, 1997

Perkembangan virus Udang di Seluruh Dunia
Virus ini telah menyebar secara global dan bahkan telah ditemukan pula pada krustasea liar di Eropa.White spot syndrome virus (WSSV) berdampak sangat buruk terhadap budidaya udang di seluruh dunia. Situasi yang bahkan lebih serius lagi, virus ini tampaknya menjadi lebih agresif sebagai epidemi menyebar, berbeda dengan virus lainnya, seperti virus flu, yang secara bertahap mati. Ilmuwan dari Universitas Wageningen, bagian dari Wageningen UR, merekontruksi lintasan genetik dan geografis virus udang dari sumber leluhur, dan menemukan bahwa kebugaran virus ini meningkat dari waktu ke waktu,Produksi udang global meningkat tiga kali lipat selama dekade terakhir, dari 750.000 ton pada tahun 1990 menjadi lebih dari tiga miliar ton selama lima tahun terakhir. Peningkatan itu sangat mempengaruhi ekosistem pesisir dan mata pencaharian. WSSV adalah patogen mematikan bagi udang, dan ancaman utama bagi peternakan udang selama dua dekade terakhir. Seiring waktu, virus ini memanifestasi diri menjadi lebih buruk. Wabahnya yang terdokumentasi pada tahun 1992 (Cina) dan 1999 (Ekuador), mengakibatkan penurunan 70% produksi udang lokal pada tahun-tahun setelah wabah. Virus ini telah menyebar secara global dan bahkan telah ditemukan pula pada krustasea liar di Eropa.
Para ilmuwan Universitas Wageningen menganalisa sampel virus ini pada udang di lima negara Asia, kemudian membandingkan mereka satu sama lain dan mempublikasikan literatur tentang WSSV dari Taiwan, Cina, Vietnam dan Thailand. Hal ini memungkinkan penulis mengklarifikasi genetik dan kebugaran yang berubah pada berbagai populasi virus sejak pertama kali ditemukan.
Genom besar virus WSSV memiliki wilayah yang bervariasi di antara isolat, yang secara utama membedakan diri mereka sendiri dengan hilangnya fragmen DNA, atau disebut penghapusan. Dengan mengurutkan rentetan masa sampel virus, para ilmuwan menemukan pola yang luar biasa: bahwa mayoritas wilayah-wilayah variabel ini menghilang dari genom awalnya, tetapi tingkat penghapusan menurun seiring waktu dalam sebuah proses yang dapat dideskripsikan secara matematis. Pengujian pada udang menunjukkan bahwa kekuatan virus ini meningkat.
Kedua perubahan tersebut tampaknya merupakan adaptasi evolusi dari virus terhadap praktek-praktek budidaya udang. Selain itu, virus ini tampaknya telah menyebar jauh dalam jangka waktu yang singkat, mengarahkan transportasi udang yang terinfeksi sebagai faktor utama. Mencegah penyebaran virus ini adalah area perbaikan utama dalam memerangi wabah virus bagi masa depan sistem produksi udang. Memahami epidemiologi WSSV pada skala temporal dan spasial yang berbeda harus mengarah pada pengendalian dan pencegahan penyakit lebih lanjut.
Selama hampir 3 (tiga) dekade (antara Tahun 1970 s/d 1998) bisnis perudangan Indonesia telah mampu menyihir minat para pelaku usaha untuk menggelontorkan investasi dengan nilai yang sangat besar untuk melakukan spekulasi bisnis pada usaha ini. Tengok saja hampir di seluruh kawasan pesisir di Indonesia terhampar luas lahan pertambakan udang sebagai ladang untuk mendulang dollar. Memang sudah bukan rahasia umum pada saat itu si bongkok begitu julukan bagi udang windu (Penaeus monodon) telah menjadi primadona dan menjadi barang berharga di kalangan masyarakat. Betapa tidak, kala itu udang windu hampir menyamai rekor daya tarik kemilau emas di mata pelaku usaha budidaya. Tingginya permintaan ekspor udang ke berbagai negara khususnya Jepang dan Uni Eropa serta trend harga yang terus melangit, memicu para pelaku usaha budidaya untuk menggenjot produksi sebesar-besarnya.
Ironisnya, Kejayaan udang windu yang sempat memenuhi pundi-pundi devisa negara selama beberapa dekade tersebut ternyata menyisakan masalah berkepanjangan. Tidak adanya kontrol terhadap pengelolaan proses produksi budidaya serta aktivitas budidaya yang mengabaikan nilai lestari telah nyata menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan budidaya dan merupakan faktor utama penyebab munculnya hama penyakit pada udang windu. Klimaksnya, mulai Tahun 1998 pamor udang windu yang sempat menghiasi bisnis perudangan nasional, sejak tahun 1998 mulai meredup dan bahkan mengalami titik kritis. Penyebabnya tiada lain adalah munculnya wabah penyakit white spot yang disebabkan oleh virus WSSV (white spot syndrome virus). Wabah virus WSSV secara cepat mempengaruhi penurunan produksi udang windu di Indonesia. Menurut Lighter, 2011 menyebutkan bahwa nilai kerugian usaha budidaya udang dunia akibat penyakit white spot (virus WSSV) pada Tahun 2009 mencapai angka US$ 15 billion, nilai yang sangat besar tentunya.
Kegagalan budidaya udang windu, memicu adanya kebijakan untuk melakukan importasi induk udang dari negara lain, dimana Tahun 2001 introduksi udang vanname (Litopenaeus vanname) dari Hawaii membawa angin segar pada bisnis perudangan nasional. Vanname dinilai mempunyai keunggulan dibanding windu antara lain : lebih tahan terhadap penyakit; dan masa pemeliharaan yang relatif cepat. Pertimbangan itu pula, masyarakat mulai ramai-ramai untuk melirik primadona baru tersebut, puncaknya usaha budidaya udang vanname telah menjadi trend baru dikalangan masyarakat pembudidaya. Namun harapan baru tersebut mulai terancam, betapa tidak vanname yang diunggulkan tahan terhadap WSSV ternyata memicu munculnya jenis virus baru. TSV (Taura Syndrome Virus) teridentifikasi menginfeksi udang vannmae dan mengancam kegiatan usaha budidaya udang vanname. Disamping virus diatas, beberapa jenis virus lain perlu diwaspadai karena setiap saat akan mengancam keberhasilan budidaya udang.
Pengendalian penyakit udang
Kunci utama dalam pengendalian hama dan penyakit adalah melalui penerapan biosecurity yang menjadi salah satu bagian dari prinsip CBIB disamping aspek keamanan pangan(food safety) dan ramah lingkungan (eviromental friendly). Keamanan biologi atau lebih dikenal dengan Biosecurity merupakan upaya mencegah atau mengurangi peluang masuknya penyakit ke suatu sistem budidaya dan mencegah penyebaran dari satu tempat ke tempat lain yang masih bebas. Namun demikian secara umum pada kenyataannya prinsip biosecurity belum sepenuhnya diterapkan pada kegiatan budidaya udang. Kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan pola manajemen budidaya udang yang dilakukan di negara lain misalnya saja Thailand, dimana prinsip biosecurity menjadi pertimbangan utama sebagai penentu keberhasilan budidaya udang. Pembudidaya seringkali belum menyadari bahwa pengelolaan air bukan hanya dilakukan pada air yang masuk, namun pengelolaan air buangan budidayapun yang sangat penting untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit udang terhadap lokasi budidaya disekitarnya. Mempertimbangkan fenomena di atas maka “society awareness” perlu ditanamkan terhadap para pembudidaya, sehingga ada komitmen dan tanggungjawab bersama dalam upaya pencegahan terhadap kemungkinan masuknya hama dan penyakit serta kemungkinan dampak penyebaran terhadap lingkungan budidaya disekitarnya.
Kegiatan temu lapang budidaya udang pada bulan September yang lalu di Kabupaten Kendal, memberikan gambaran terhadap pembudidaya bahwa betapa pentingnya penerapan prinsip CBIB dalam proses produksi budidaya sebagai bagian upaya pengendalian hama dan penyakit udang. Menurut Made Suitha, Kepala BBPBAP Jepara dalam paparannya menjelaskan bahwa berdasarkan hasil indentifikasi permasalahan pada kawasan budidaya udang, terdapat beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab munculnya penyakit sehingga menyebabkan kegagalan panen antara lain: 1) Kualitas benih yang rendah dan sudah terinfeksi penyakit virus; 2) Kondisi Lingkungan tempat budidaya meliputi sumber air berkualitas rendah dan terkontaminasi oleh pathogen penyebab penyakit dan 3) Pengelolaan lingkungan tambak selama pemeliharan yang kurang baik menyebabkan kualitas lingkungan rendah dan terjadi fluktuasi kualitas lingkungan yang luas selama proses pemeliharaan menyebabkan udang mengalami stress sehingga kondisi udang melemah, yang pada akhirnya mudah terserang penyakit. Ditambahkan, bahwa Penyebaran virus ini akan lebih cepat bila tataletak dan konstruksi antar petak tambak dalam kondisi kurang baik. Konstruksi pematang yang tidak kedap sehingga menyebabkan air yang terinfeksi penyakit rembes/bocor mengalir masuk pada petak pembesaran udang lainnya sehingga menyebabkan penularan. Penggunaan saluran inlet dan outlet secara bersamaan dengan pengaturan pengelolaan air yang tidak baik ,dapat menyebabkan buangan air dari petak tambak yang terserang penyakit menular pada perairan yang digunakan sebagai sumber air untuk kegiatan budidaya di kawasan tambak lainnya.
Berdasarkan permasalahan di atas menurut Made, maka perlu ada upaya antisipasi dini pencegahan penyakit dalam budidaya udang. Salah satu konsep yang saat ini telah diterapkan adalah melalui penerapan CBIB/BMPs dengan model cluster. Model ini diharapkan mampu meminimalisir serangan dan penyebaran penyakit. Ada lima prinsip dasar CBIB/BMPs untuk budidaya udang guna mengantipasi serangan penyakit serta menjamin keamanan pangan (food safety) produk udang, yaitu :
1. Pemilihan lokasi yang sesuai dengan komoditas udang meliputi system irigasi baik, kualitas tanah dasar tidak tanah masam, konstruksi tambak kedap (maksimum bocoran 10%/minggu).
2. Musim tebar yang tepat dan serentak pada tambak dalam kawasan/cluster (Use an all-out, all-in, once-only stocking of participating ponds),
3. Penerapan bioskurity secara maksimal dengan menggunakan benih sehat (negative tes PCR), tandon (resevoar) atau biofilter untuk mencegah carier dan untuk perbaikan mutu air.
4. Menjaga kestabilan lingkungan tambak selama proses pemeliharaan yaitu pengelolaan air terutama Pengelolaan Oksigen terlarut pada dasar tambak dan pengelolaan pakan.
5. Memaksimalkan produk udang yang aman pangan (food safety), berkualitas dan menguntungkan dengan tidak menggunakan pestisida dan bahan kimia lainnya yang di larang.
Terkait penerapan teknologi BMPs model cluster pada budidaya udang windu BBPBAP Jepara akan melakukan pemetaan dan identifikasi lokasi lahan tambak idle yang masih memungkinkan untuk menjadi lahan percontohan penerapan konsep budidaya udang windu sistem klaster. Selain itu mengingat sebagian besar pembudidaya masih mendambakan udang windu, maka dalam memenuhi kebutuhan benih udang windu unggul, sampai saat ini BBPBAP Jepara telah mampu melakukan pemuliaan udang windu generasi ke lima (F 5) dengan hasil baik dan diharapkan dapat memenuhi hasrat pembudidaya untuk kembali menjadikan udang asli Indonesia ini sebagai prioritas utama.
Antisipasi Dini Penyakit melalui Kebijakan Analisis Resiko Impor(Import Risk Analysis)
Penurunan produksi udang pada tahun 2009 dan 2010 pada kenyataannya lebih disebabkan oleh kegagalan produksi sebagai akibat akibat serangan virus, dimana sumbernya dapat berasal dari udang impor. Importasi udang dan produknya dari negara lain memberikan kemungkinan penyakit udang untuk masuk ke Indonesia, hal ini dapat mempengaruhi kesehatan dan berdampak terhadap kegagalan produksi udang nasional yang pada giliranya dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat pembudidaya. Kebijakan Analisa Resiko Impor (Import Risk Analysis) untuk komoditas udang baik dalam bentuk induk, benih maupun produk dimaksudkan untuk menilai resiko terbawanya hama penyakit udang ke Indonesia dikaitkan dengan importasi secara objektif dan transparan sehingga tindakan kesehatan ikan dapat dijustifikasi secara alamiah.
Analisis Resiko Impor dapat diberlakukan terhadap negara anggota OIE (Office International des Epizooties) atau Badan Kesehatan Hewan Dunia, yaitu meliputi
a) jenis atau strain/varietas ikan baru;
b) produk perikanan baru;
c) jenis ikan berbahaya;
d) ikan dan produk perikanan dari negara asal yang memiliki penyakit baru;
e) ikan dan produk perikanan dari negara asal yang sedang terkena wabah;
f) pertama kali masuk dari suatu negara. Sedangkan bagi negara yang bukan anggota OIE larangan impor dapat diberlakukan terhadap semua produk.
Perjanjian WTO (World Trade Organization) mengenai tindakan Sanitary and Phystosanitary (SPS agreement) mengakui secara sah penerapan tindakan-tindakan yang ditermpuh suatu negara untuk melindungi manusia dan hewan terhadap resiko masuknya penyakit.

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Banyaknya pro-kontra mengenai masalah Alat Penangkapan ikan menjadi tinjauan dalam penulisan makalah ini, terlepas dari Keputusan Presiden No. 39 Tahun 1980 mengenai dilarangnya pengoprasian seluruh alat tangkap Trawl termasuk didalamnya Mid Water Trawl, kemudian dikeluarkannya izin oleh DKP tentang diperbolehkannya pengoprasian alat tangkap ikan di Laut Arafura dan wacana harian “Kontan” pada 10 April 2008 dari Soen’an Hadi Poernomo tentang akan dikeluarkannya izin penggunaan Trawl diseluruh perairan Indonesia oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Indonesia dengan pertimbangan bahwa :
1. Walaupun telah dikeluarkannya larangan tentangtang penggunaan trawl namun tidak sedikit nelayan yang masih mengoprasikannya.
2. Nelayan yang Mengoprasikan Trawl di daerah perbatasan perairan juga dapat membantu pengamanan wilayah perairan Indonesia.
Hal-hal diatas merupakan pemicu pro dan kontra mengenai pengoprasian alat tangkap Mid Water Trawl. Dengan penulisan makalah ini, saya bisa melakukan pembelajaran tentang alat tangkap.
2. Tujuan
Adapun Tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui aspek fisik dan pengoprasian alat tangkap ikan Mid Water Trawl.
2. Menganalisis kelayakan penggunaan alat tangkap tersebut di perairan Indonesia.
3. Mengambil kesimpulan tentang kelayakan oprasi alat tangkap Ikan Mid Water Trawl.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Alat Tangkap
Kata “ trawl “ berasal dari bahasa prancis “ troler “ dari kata “ trailing “ adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik “ ataupun “mengelilingi seraya menarik “. Ada yang menterjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik” , tapi karena hampir semua jaring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik , maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata” trawl” saja.
Dari kata “ trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jarring trawl ( trawl net ) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal ( baca : kapal dalam keadaan berjalan ) menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Jarring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik dasar”.
Stern trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya ( penurunan dan pengangkatan ) jaring dilakukan dari bagian belakang ( buritan ) kapal atau kurang lebih demikian. Penangkapan dengan system stern trawl dapat menggunakan baik satu jarring atau lebih.
2. Sejarah Alat Tangkap
Jaring trawl yang selanjutnya disingkat dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di Indonesia sejak awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk ( tingkat ) percobaan. Percobaan-percobaan tersebut sempat terhenti akibat pecah Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an ( periode setelah proklamasi kemerdekaan ). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat percobaan ini semula dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan Perikanan Pusat waktu itu. Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian dilanjutkan oleh YPL Surabaya.
Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengalami perubahan-perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrol net.
3. Prospektif Alat Tangkap
Perkembangan teknologi menyebabkan kemajuan- kemajuan pada main gear, auxillary gear dan equipment lainny. Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungan depth swimming layer pada ikan, horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring, estimate catch yang berada pada cod end sehubungan dengan pertambahan beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board sehubungan dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board, dan lain-lain perlengkapan.
Demikian pula fishing ability dari beberapa trawler yang beroperasi di perbagai perairan di tanah air, double ring shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan lain-lain sebagainya. Perhitungan recources sehubungan dengan fishing intensity yang akan menyangkut perhitungan- perhitungan yang rumit, konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan, diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu bentuk yang diharapkan.
Ada beberapa macam alat tangkap yang sering digunakan untuk menangkap ikan antara lain adalah :
1. Pukat
Pukat harimau adalah jaring yang berbentuk kantong yang ditarik oleh satu atau dua kapal, bisa melalui samping atau belakang. Alatini merupakan alat yang efektif namun tidak selektif sehingga dapat merusak semua yang dilewatinya. Oleh karena itu kecenderungan alat tangkap ini dapat menjurus ke alat tangkap yang destruktif. Aturan-aturan yang diberlakukan pada pengoperasian alat inirelatif sudah memadai, namun pada prakteknya sering kali dijumpai penyimpangan-penyimpangan yang pada akhirnya dapat merugikan semua pihak. Tujuan utama pukat udang adalah untuk menangkap udang dan juga ikan perairan dasar (demersal fish)

2. Pancing
Pancing adalah salah satu alat penangkap yang terdiri dari dua komponen utama,yaitu : tali (line) dan mata pancing (hook). Jumlah mata pancing berbeda-beda, yaitumata pancing tunggal, ganda, bahkan sampai ribuan. Prinsip alat tangkap ini merangsangikan dengan umpan alam atau buatan yang dikaitkan pada mata pancingnya. Alat ini pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama yaitu tali dan mata pancing. Namun, sesuaidengan jenisnya dapat dilengkapi pula komponen lain seperti : tangkai (pole), pemberat(sinker), pelampung (float), dan kili-kili (swivel). Cara pengoperasiannya bisa di pasangmenetap pada suatu perairan, ditarik dari belakang perahu/kapal yang sedang dalamkeadaan berjalan, dihanyutkan, maupun langsung diulur dengan tangan. Alat inicenderung tidak destruktif dan sangat selektif. Pancing dibedakan atas rawai tuna, rawaihanyut, rawai tetap, pancing tonda, dan lain-lain.

3. Tombak
Alat penangkap yang terdiri dari batang (kayu, bambu) dengan ujungnya berkaitbalik (mata tombak) dan tali penarik yang diikatkan pada mata tombak. Tali penariknyadipegang oleh nelayan kemudian setelah tombak mengenai sasaran tali tersebut ditarik untuk mengambil hasil tangkapan.Senapan adalah alat penangkap yang terdiri dari anak panah dan tangkai senapan.Penangkapan dengan senapan umumnya dilakukan dengan cara melakukan penyelamanpada perairan karang. Untuk penangkapan dengan panah biasa, umumnya dilakukandekat pantai atau perairan dangkal.Harpun Tangan adalah alat penangkap yang terdiri dari tombak dan tali panjangyang diikatkan pada mata tombak. Harpun tangan ini ditujukan untuk menangkap paus,dimana tombak langsung dilemparkan dengan tangan kearah sasaran (paus) dari atasperahu.Kecenderungan alat tangkap yang relatif sederhana ini tidak destruktif dan sangatselektif karena ditujukan untuk menangkap suatu spesies. Tetapi alat ini dapat merusak habitat bila disalahgunakan

4. Jaring
Jaring angkat adalah suatu alat pengkapan yang cara pengoperasiannya dilakukandengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Alat ini terbuat dari nilon yangmenyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relatif kecil yaitu 0,5 cm. Bentuk alat inimenyerupai kotak, dalam pengoperasiannya dapat menggunakan lampu atau umpansebagai daya tarik ikan. Jaring ini dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan tetap ataudengan tangan manusia. Alat tangkap ini memiliki ukuran mesh size yang sangat kecildan efektif untuk menangkap jenis ikan pelagis kecil. Kecenderungan jaring angkatbersifat destruktif dan tidak selektif. Contoh jaring angkat adalah bagan perahu atau rakit(boat / raft lift net), bagan tancap (bamboo platform lift net), dan serok (scoop net).

5. Jala
Jala adalah alat penangkap yang berbentuk seperti kerucut dan terdiri dari badan jaring (kantong), pemberat yang dipasang mengelilingi mulut dan tali yang diikatkan pada bagian ujung jaring agar tidak terlepas pada waktu dioperasikan. Tujuan utamanya untuk mengurung ikan dan udang dari atas dngan cara menebarkan alat tersebut.

BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
setelah dilakukan berbagai peninjauan dan pencermatan, maka dari tujuan penulisan makalah ini “Alat Penangkapan Ikan Trawl (terkhusus pada mid water trawl/pukat ikan) kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kami telah mengetahui aspek fisik dan pengoprasian alat tangkap
trawl (mid water trawl/pukat ikan).
2. Dengan alasan :
• Bahwa dengan dikeluarkannya PP No. 39 tahun 1980 bahwa seluruh alat tangkap trawl dilarang untuk beroprasi.
• Bahwa laut yang dulunya merupakan daerah penangkapan dengan trawl, pada saat ini sudah mengalami over fishing.
B.Saran
• Agar nelayan dapat mengoperasikan cara penagkapan yang lebih layak sehingga ikan tidak mengalami kepunahan.
• Menjaga dan melastarikan berbagai jenis alat tangkap yang ada di Indonesia.

DAFTAR PUSTKA

1. Ayodhyoa,A.U.1983.Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Faperik. IPB. Bogor
2. Subani,W. 1978. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia,jilid I. LPPL. Jakarta
3. The Gourack Ropework,Co.,ltd.1961. deep sea trawling and wing trawling
4. Ward,george,ed.1964. Stern trawling

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang Masalah
Pemanfaatan sumberdaya alam secara luas dan efisien merupakan tuntunan dalam pembangunan nasional. Keperluan akan sumberdaya air terus menerus meningkat baik ditujukan bagi pengairan, keperluan umum dan pemukiman, pengembangan industri, pembangkit tenaga, perikanan, perhubungan, pariwisata maupun maksud lainnya. upaya pembendungan DAS, genangan atau bentuk sumberdaya air lainnya telah banyak dilakukan dalam rangka memenuhi keperluan air dan tenaganya, untuk itu dibentuk waduk (reservoir/man made lakes). Pembuatan waduk melalui pembendungan aliran sungai pada hakekatnya akan merubah ekosistem sungai dan daratan menjadi ekosistem waduk. Perubahan ini akan mempunyai dampak, baik positif maupun negatif terhadap sumberdaya dan lingkungannya.
Dampak positif maupun negatif yang ditimbulkna adalah sesuai dengan fungsi waduk tersebut, sedangkan dampak negatif dan permasalahan yang paling menonjol adalah pemukiman kembali penduduk asal kawasan yang digenangi, pengadaan lapangan kerja, hilangnya daratan, hutan, perkebunan, dan sumberdaya lainnya termasuk flora, fauna serta dampak ekologi yang merugikan lainnya baru akan terasa dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, maka pembangunan waduk perlu dinilai dan dikaji dengan memperhitungkan arti dan peran pentingnya bagi pembangunan ekonomi dan kemudian memantapkan cara dan teknik pengelolaan sumberdaya perairan waduk agar diperoleh hasil optimal dengan meminimalkan efek atau dampak negatif yang tidak diinginkan.
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu kajian untuk membahas masalah mengenai pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu, untuk mendukung suatu program pengelolaan yang efektif guna menjamin produksi ikan yang optimum dan berkelanjutan dengan tidak mengabaikan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya, yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Menurut Krismono (1995), luas perairan danau dan waduk di Indonesia adalah 2,6 juta hektar. Pengelolaan perikanan di perairan waduk penting dan perlu dikembangkan karena sumberdaya alam perikanan akan merupakan sumberdaya hayati pengganti dari lahan daratan yang digenangi. Pola produktivitas perikanan di waduk dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: tipe waduk, kesuburan, dan pengelolaan perikanan. Pada tahap awal penggenangan waduk akan terjadi.
B. Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan judul PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERAIRAN WADUK SECARA OPTIMAL DAN TERPADU untuk mengetahui tentang :
– Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
– Untuk mengetahui sejauh mana Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
– Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dalam Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan tujuan makalah diatas, maka masalah-masalah yang di bahas dapat di rumuskan sebagai berikut:
– Bagaimana Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
– Hal-hal didalam Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
– Fungsi Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.

BAB II
PEMBAHASAN

Peningkatan produktivitas perikanan dan mencapai maksimum dalam beberapa tahun. Beberapa tahun kemudian, produksi akan menurun dengan cepat sampai kira-kira setengahnya. Pola ini merupakan ciri khusus dari tipe waduk yang dalam dan berlereng curam. Pada waduk ukuran besar dan dangkal, pola produktivitas perikanannya tidak menurun tajam setelah terjadi peningkatan produksi pada tahap awal, produktivitasnya hanya berfluktuasi kecil dan berada sekitar produksi tertinggi. Pengelolaan perikanan perlu memperhitungkan interaksi antara perikanan tangkap dan perikanan budidaya, antara jenis teknologi yang digunakan, antara kelompok sosial-ekonomi yang berkepentingan, dan antara badan-badan atau sektor-sektor yang terkait dalam pengelolaan dan pemanfaatan waduk.

Tujuan dari pengelolaan perikanan di waduk adalah meningkatkan dan mempertahankan produksi dalam keadaan yang mantap, yaitu mendekati tingkat produktivitas yang optimum dan melestarikan lingkungan sumberdaya perikanan. Tujuan dan sasaran-sasaran yang akan dicapai hendaknya disesuaikan dengan arah pembangunan nasional dan kepentingan masyarakat setempat, terutama yang berdiam di sekitar waduk. Pelaksanaan pengelolaan perikanan yang utama adalah meratakan gejala fluktuasi populasi ikan dan meningkatkan hasil perikanan. Pelaksanaan tersebut dapat ditempuh melalui modifikasi lingkungan, pengembangan pengaturan dan pengendalian, introduksi budidaya ikan di waduk dan di wilayah sekitarnya, serta penyuluhan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan dan mengelola wadak tersebut.untuk mendukung suatu program pengelolaan yang efektif guna menjamin produksi ikan yang optimum dan berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kesejahteraan hidup terutama masyarakat di sekitar waduk, maka penulis mencoba menguraikan beberapa hal tentang pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu, melalui usaha pengelolaan perikanan tangkap, pengelolaan perikanan budidaya dan pengelolaan di bidang non perikanan.

A. PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERAIRAN WADUK SECARA OPTIMAL
Pengelolaan perikanan tangkap meliputi berbagai kegiatan yang ditujukan untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan secara optimal dan berkelanjutan. Dalam pengelolaan perikanan tangkap, diharapkan kesejahteraan hidup masyarakat dapat meningkat, khususnya yang berada di sekitar waduk dan mereka yang terkena pembangunan waduk, oleh sebab itu inventarisasi mengenai keinginan, harapan dan prefensi masyarakat perlu dilakukan. hal-hal yang perlu diperhatikan agar dicapai tingkat pemanfaatan yang optimal dan berkelanjutan, adalah :
a. Pengelolaan Habitat
Pembendungan aliran sungai akan membentuk ekosistem baru yang sangat berlainan dengan ekosistem sungai. Sungai yang merupakan perairan mengalir sebagai habitat ikan sungai, akan mengalami perubahan menjadi perairan waduk dan mungkin hanya beberapa jenis ikan saja yang mampu menyesuaikan diri untuk hidup dan berkembangbiak dalam menyelesaikan daur hidupnya. Perairan waduk yang terbentuk mungkin hanya cocok sebagai daerah pertumbuhan, tetapi tidak sebagai daerah pemijahan bagi beberapa jenis ikan asli sungai, sehingga ikan tersebut hanya dapat tumbuh namun tidak dapat melanjutkan keturunannya. Oleh sebab itu, maka di dalam pengelolaan sumberdaya perairan waduk, salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah kondisi habitat agar habitat baru tersebut sesuai bagi persyaratan perkembangan populasi ikan untuk menyelesaikan daur hidupnya.
Agar produksi perikanan di perairan waduk meningkat dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan, maka pengelola perikanan harus mampu memanipulasi dan memodifikasi habitat waduk sehingga sesuai dengan persyaratan yang diperlukan oleh populasi ikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pembersihan tumbuhan sebelum waduk diairi, penyediaan daerah pemijahan dan jalur ikan, pengelolaan daerah hilir bendungan, dan pengendalian tanaman air.
Terbentuknya suatu waduk berarti wilayah tersebut telah mengalami perubahan ekosistem, untuk itu perlu dibina dengan cara:
1. mengidentifikasi daerah tersebut menurut tingkat pemanfaatan sumberdaya, maka pemanfaatan bisa seperti pada daerah padat upaya atau daerah berkembang.
2. penebaran sebaiknya dilakukan setelah perairan tersebut stabil (setelah berumur 5 tahun) tetapi bila keadaan mendesak/tujuan politik bisa dilakukan sebelumnya.
3. pada daeran waduk sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak dengan tujuan masing-masing, maka untuk pengelolaan perlu dilakukan secara terpadu dan didukung oleh peraturan-peraturan yang cukup memadai.
4. perlu usaha yang intensif sedini mungkin untuk mencegah terjadinya pendangkalan dan meluasnya gulma.
5. memperkenalkan dan mengembangkan usaha di bidang budidaya ikan.
6. memonitoring segala usaha tersebut secara terusmenerus untuk menjaga kelestarian sumber.
b. Pengelolaan Populasi Ikan

Perubahan ekosistem sungai menjadi ekosistem waduk akan berpengaruh terhadap populasi ikan. Pada awal penggenangan, siklus hidup ikan akan terganggu. Jenis ikan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan waduk akan tumbuh dan berkembang biak serta biasanya merupakan ikan yang mendominasi. Sebaliknya, jenis ikan yang kurang atau tidak mampu beradaptasi, pada jangka panjang akan menghilang meskipun mungkin pada tahun pertama penggenangan jumlahnya melimpah.
Ukuran populasi ikan ditentukan oleh laju peremajaan dan pertumbuhan. Apabila ketersediaan daerah pemijahan dan daerah makanan ikan terbatas maka ukuran populasi akan semakin menurun. Penurunan tersebut akan dipercepat dengan meningkatnya upaya penangkapan.
Perikanan waduk bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan dan mempertahankan produksi tersebut pada tingkat produktivitas maksimumnya, oleh sebab itu maka pengelolaan populasi ikan harus ditujukan bagi tercapainya kondisi perairan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan populasi ikan yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka di dalam pengelolaan populasi ikan di waduk, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, faktor-faktor yang membatasi ukuran populasi dan tujuan serta sasaran perikanan waduk.
Teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam pengelolaan populasi ikan untuk mencapai tingkat produksi ikan yang tinggi antara lain : pemberantasan jenis ikan yang tidak disukai, introduksi dan penebaran, pengaturan permukaan air dan pencegahan serta pengendalian hama penyakit dan parasit.
c. Pengelolaan Penangkapan
Pola usaha penangkapan ikan yang dikembangkan di suatu perairan waduk harus didasarkan pada pengetahuan tentang populasi ikan seperti formasi populasi, dinamika populasi, kelimpahan stok dan biomass, dan produksi maksimum lestari yang dapat dicapai.
Usaha penangkapan diarahkan pada rasionalisasi pemanfaatan sumber yang optimal dengan memperhatikan kelestarian sumber. Dengan sasaran itu, maka pola pembinaan pengelolaan di daerah padat menurut Widana dan Martosubroto (1986) dilakukan dengan upaya sebagai berikut :
1. pembatasan upaya baik jumlah alat tangkap maupun musim penangkapan.
2. pembatasan ukuran mata jaring atau alat lain
3. membangun reservat baru dan meningkatkan fungsi reservat yang sudah ada, serta perlu adanya pengawasan terhadap kegiatan nelayan yang merugikan fungsi reservet tersebut dan perlu adanya penyuluhan tentang arti penting suatu reservat.
4. mengadakan penebaran yang harus ditunjang dengan penyediaan benih yang cukup dengan jalan meningkatkan fungsi BBI lokal.
5. mengingat perairan waduk merupakan peranan yang tertutup dan dibeberapa tempat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, maka pengelolaan harus dilaksanakan secara koordinatif dan terpadu dengan ditunjang oleh peraturan yang memadai.
6. diversivikasi usaha kebidang lain, terutama kebidang usaha budidaya diperairan waduk.
7. perlu penyuluhan yang intensif kepada masyarakat mengenai pentingnya kelestarian sumber.

Teknik penangkapan yang diterapkan harus didasarkan pada teknologi tepat guna, yaitu teknologi yang sedarhana, mudah diterapkan, rancang bangunnya tidak memerlukan pengetahuan yang tinggi, produktivitasnya tinggi tetapi tidak merusak sumberdaya perikanan. Sebagai contoh, di waduk Jatiluhur, penangkapan ikan dengan jaring insang menggunakan bahan pelampung yang terbuat dari styrofoam bekas, potongan kayu atau bambu. Jumlah, jenis dan tipe alat tangkap yang digunakan harus disesuaikan dengan potensi sumberdaya ikan dan daya pulih stok. Jenis alat tangkap yang umumnya banyak digunakan di perairan waduk adalah: jaring insang, rawei, jala, dan pancing.
Penggunaan alat tangkap ikan yang menggunakan arus listrik, bahan peledak atau racun (bahan-bahan yang bersifat toksik) harus dilarang karena akan memusnahkan stok ikan mulai dari larva hingga dewasa, serta biota lainnya. Penggunaan alat tangkap yang sifatnya menguras stok ikan seperti pukat harimau harus dilarang sebab selain menangkap ikan tidak selektif, juga dapat merusak habitat biota dasar perairan.

Pengendalian penangkapan ikan antara lain dapat dilakukan dengan cara:
1. Menetapkan daerah dan musim atau bulan larangan penangkapan ikan, yang bertujuan untuk memberi kesempatan ikan berkembang biak dan bertumbuh.
2. Pengaturan ukuran terkecil yang boleh ditangkap, yaitu dengan penetapan ukuran terkecil mata jaring insang dan ukuran mata pancing rawai yang boleh dipakai oleh nelayan.
3. Pengaturan upaya penagkapan, misalnya dengan mengatur jumlah nelayan dan atau unit alat tangkap.
4. Larangan penggunaan alat tangkap ikan yang dapat membahayakan kelestarian sumberdaya perikanan, misalnya larangan penggunaan bahan peledak dan bahan beracun berbahaya (B3), alat tangkap berarus listrik dan pukat harimau.

d. Pengelolaan Budidaya
Pengelolaan budidaya ikan harus ditujukan untuk mendapatkan produksi ikan optimal dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kelestarian sumberdaya perairan. Prinsip dari budidaya ikan adalah pemeliharaan ikan pada kondisi perairan yang dapat dikendalikan lingkungannya. Waduk merupakan salah satu perairan umum yang mempunyai wilayah yang memenuhi syarat untuk budidaya ikan. Saat ini budidaya yang masih cocok untuk perairan waduk adalah pemeliharaan ikan dalam keramba jaring apung. Keramba jaring apung merupakan salah satu jenis usaha keramba yang dominan yang diusahakan oleh petani.
Jika ditinjau dari segi ketersediaan sumberdaya pertanian, profitabilitas usaha dan pasar, terutama pasar ekspor, usaha keramba jaring apung mempunyai prospek untuk dikembangkan dan merupakan lapangan pekerjaan yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Ada indikasi bahwa usaha keramba jaring apung bersifat terintegrasi mulai dari penyediaan benih, usaha pembesaran ikan hingga pemasaran mempunyai profitabilitas yang lebih tinggi (Manurung, 1997).
Lebih lanjut Manurung (1997), mengemukakan bahwa usaha budidaya keramba jaring apung relatif baru dikenal oleh petani Indonesia yakni sejak 1974. Usaha ini pada awalnya dicoba di waduk Jatiluhur oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat. Pemanfaatan waduk untuk usaha perikanan dengan keramba lebih berkembang di Jawa dibanding dengan daerah lain di Indonesia.
Tujuan utama budidaya ikan adalah optimasi produksi ikan pada tingkat biaya yang minimum, oleh kerenanya setiap budidayawan harus tahu dan menguasai seluruh konsep sistem budidaya dan secara efektif dapat mengendalikan setiap tahapan operasional budidaya yang dimulai dari tahap pembuatan unit budidaya dan pemilihan lokasi untuk budidaya ikan meliputi faktor fisik, kimia, dan biologi perairan, kemudahan jangkauan dan ketersediaan sarana dan prasarana, serta faktor keamanan.
Menurut Krismono (1995) bila pada perairan waduk dan danau sudah ditentukan kawasan bididayanya, maka pemanfaatan zona budidaya perairan hasil penentuan tata ruang harus memperhatikan syarat-syarat atau catatan-catatan khusus tentang lingkungan sumberdaya perairan tersebut, yang meliputi:
1. luas zona budidaya, kedalaman, arus air, kecerahan dan tingkat tropik (daya dukung sumberdaya perairan)
2. Ketinggian, musim dan sifat khusus, misalnya umbalan.

e. Operasional Budidaya
Sebelum operasional budidaya dilakukan, perlu dibuatkan jadwal pelaksanaanya yang memuat semua kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari persiapan, pengadaan sarana, bahan dan peralatan, penebaran ikan, pemberian pakan, perawatan dan pengawasan, pemantauan stok ikan dan kualitas perairan sampai dengan panen dan distribusi.
Apabila lokasi budidaya telah dipilih, fasilitas budidaya sudah lengkap tersedia dan wadah pemeliharaan sudah ditebari ikan, maka budidayawan ikan harus mempunyai keyakinan bahwa ikan yang dipelihara tumbuh dengan laju pertumbuhan yang diharapkan, kehilangan ikan baik yang disebabkan penyakiot, hama maupun lolos keluar jaring minimum, dilakukan pemeliharaan jaring secara rutin, pemberian pakan dilakukan secara efisien dan tepat, dan pengecekan stok ikan serta kualitas air dilakukan secara rutin selama pemeliharaan. Panen sebaiknya disesuaikan dengan rencana yang telah ditetapkan, ukuran ikan sesuai dengan permintaan dan tersedianya pasar serta produk yang dihasilkan sebaiknya memenuhi mutu terbaik dan higienis.

B. PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERAIRAN WADUK SECARA TERPADU
Perencanaan pengelolaan perairan waduk secara terpadu merupakan salah satu alternatif bentuk pengelolaan yang diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan di waduk tersebut agar tercapai pemanfaatan sumberdaya perairan waduk secara optimum dan berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya.
Ilyas dan Budihardjo (1995), mengemukaan bahwa bagi suatu perencanaan terpadu, sangat primer perlu difahami akan proses dan interaksi alami yang berlangsung, potensi yang tersedia, interaksi antara berbagai kepentingan, agar tidak menimbulkan kompetisi dalam pemanfaatan, yang mengakibatkan pada benturan yang menjurus pada tidak lestarinya sumberdaya dan menurunnya kondisi sosial ekonomi, tiadak berlanjutnya pembangunan.
Menurut Krismono (1998), untuk menjaga kelestarian sumberdaya perairan dan kesinambungan usaha perikanan, maka perlu diperhatikan dan dipelajari beberapa hal, antara lain :
1. Jenis perairan, sehingga diketahui pola kelakuannya.
2. Letak tata ruang dari budidaya ikan diperairan waduk/danau karena pada danau vulkanik/tektonik, tempat terjadinya umbalan biasanya tidak total.
3. Musim, berdasarkan pengalaman, kematian pada waktu-waktu tertentu misalnya di perairan waduk pada saat awal musim hujan (pada air rendah), sehingga pada saat tersebut harus mengurangi jumlah pemeliharaan ikan.
4. daya dukung perairan umumnya pada saat air tinggi (Maret-Agustus) lebih tinggi, sehingga jumlah pemeliharaan ikan dapat lebih tinggi.

Seperti kita ketahui bahwa perikanan merupakan fungsi sekunder dari pembangunan waduk, oleh karena itu, pengelolaan waduk secara terpadu, masyarakat yang tergusur dapat bekerja dalam kegiatan perikanan baik kegiatan di waduk itu sendiri, maupun kegiatan perikanan di sekitar waduk, terutama daerah yang mendapat sistem pengairan dari waduk tersebut. Pengembangan perikanan di waduk dapat memberikan kontribusi yang optimal jika diterapkan suatu bentuk atau pola pengelolaan perikanan yang rasional dan terpadu sesuai dengan fungsi waduk yang bersifat serbaguna (Kartamihardja, 1993).
Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara terpadu yang bisa dilakukan di luar sektor perikanan, antara lain :
1. Pengelolaan sumber tenaga listrik (kawasan berbahaya); kawasan ini merupakan daerah tertutup untuk kepentingan umum. Pada kawasan ini pula dibentuk untuk melindungi instalasi penting dan bendungan utama. Arealnya biasanya ditentukan meliputi luasan dengan jarak 1 km dari titik tengah bendungan dan batasnya berupa pelampung dengan warna menyolok.
2. pengelolaan kawasan wisata dan olah raga; kawasan ini dimanfaatkan untuk rekreasi air (pariwisata) seperti perahu dayung, pemancingan, ski air, dan lain-lain.
3. Pengelolaan kawasan yang dilindungi; kawasan ini juga merupakan kawasan yang tertutup bagi kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang dapat mengganggu kelestarian populasi ikan. Kawasan ini dapat merupakan daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground) sehngga memungkinkan perlindungan bagi induk-induk ikan untuk berkembang biak dan mengasuh anaknya. Kawasan ini perlu ditinjau ketepatannya secara berkala, sebab mungkin saja perubahan ekologis waduk telah merubah pola kebiasaan hidup ikan.

Pengelolaan perairan waduk sebagai salah satu sumberdaya alam, untuk keperluan lain di luar perikanan, diarahkan untuk menjaga keserasian antara kegiatan-kegiatan manusia dan pembinaan mutu lingkungannya. Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sepenuhnya tetapi dengan cara-cara yang tidak merusak.

BAB III
P E N U T U P

A. KESIMPULAN
– Sebagai konsekuensi adanya pembendungan aliran sungai untuk membentuk suatu waduk yang dapat merubah ekosistem sungai dan daratan menjadi ekosistem waduk, akan menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap sumberdaya dan lingkungan. Sehingga diperlukan pembinaan waduk secara optimal dan terpadu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tingkat pemanfaatan optimal dan berkelanjutan, antara lain: pengelolaan habitat, pengelolaan populasi ikan, pengelolaan penangkapan, pengelolaan budidaya dan operasional budidaya. Di samping itu, perlunya kita menjaga kelestarian sumberdaya perikanan dan kesinambungan usaha perikanan, dengan memperhatikan hal-hal seperti: jenis perairan, letak tata ruang dari budidaya ikan di perairan waduk/danau, musim, serta daya dukung perairan.
– Pengelolaan sumberdaya waduk secara optimal dapat dilakukan melalui usaha-usaha di bidang sektor perikanan, seperi perikanan tangkap dan budidaya, sedangkan pengelolaan sumberdaya waduk secara terpadu, dilakukan dengan cara pengelolaan di luar sektor perikanan, yang dilakukan untuk mendukung suatu program pengelolaan yang efektif guna menjamin produksi ikan yang optimum dan berkelanjutan dengan tidak mengabaikan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya.
B. SARAN
– Saran dari penyusun adalah “Marilah Kita meningkatan kwalitas Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu”.
– Tingkatkan mutu Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.
– Tingkatkan kompetensi sumberdaya manusia di bidang Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara optimal dan terpadu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, S., Budihardjo. 1995. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Posisi Kunci dalam Pembangunan Perikanan. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia I Tanggal 25 – 27 Agustus 1993. Jakarta.
2. Kartamihardja, E.S. 1993. Perencanaan Pengelolaan Perikanan Terpadu di Waduk Kedungumbo, Jawa Tengah. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia I Tanggal 25 – 27 Agustus 1993. Jakarta.
3. Krismono 1998. Mengapa Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Danau dan di Waduk Mati. Warta Penelitian Perairan Indonesia. Vol. IV No. I. Jakarta.
4. Krismono, 1995. Penataan Ruang Perairan Umum untuk Mendukung Agribisnis dan Agroindustri. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia I Tanggal 25-27 Agustus 1995. Jakarta.
5. Manurung, V.T. 1997. Status dan Prospek Budidaya Ikan dengan Keramba Jaring Apung di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol. XVI. No. I.
6. Sarnita, A. 1986. Perairan Umum di Indonesia sebagai salah satu Sumberdaya Alam. Prosiding Seminar Perikanan Perairan Umum. Tanggal 1 September 1986. Jakarta.
7. Widana,K.,P. Martosubroto. 1986. Pengelolaan Perikanan Perairan Umum dan Masalahnya. Prosiding Seminar Perikanan Perairan Umum. Tanggal 1 September 1986. Jakarta.

Awan Tag